Ada jejak jejak langkahmu tertuang dalam secangkir kopi di senja ini. Teduh, aku duduk di bangku dekat jendela. Berharap jingganya langit mengimbangi pekatnya kopi. Aku pandangi lekat lekat matahari yang dalam diam ditenggelamkan semesta. Tak lagi aku dapati matamu untuk aku selami. Kamu kutemukan mundur perlahan dan menarik diri untuk bertahan. Dalam senja, aku biarkan cangkir ini kosong hingga tiada yang tersisa termasuk jejak jejakmu. Semu.

This is what always happens every time I’m about to go outside wearing a skirt or a dress.

Mom: Have you put your short pant on already?
Me: Yes, of course, Mom.

*minutes later*

Mom: *lifting my skirt/dress, literally*
Me: -____-

God always knows how to make us smile by giving what we want the most. However, God also knows how to make us smile wider by giving us a sorrowness. You know, the length of the bottom of the sea to the sky is longer than the length of the sea level to the sky. Get it?
If you could get into my belly, you’ll find lots of butterflies having passed their chrysalis phase after chewing my belly and my heart up. Lucky me you’ve come before they are all gone by the worms.
Kadang, kita terlalu sibuk membicarakan akhir dari sesuatu yang belum saja dimulai. Sering, kita lupa kalau perihal akhir bergantung pada apa yang kita lakukan, bukan apa-apa yang kita utarakan. Ah, sudah bosan aku bertukar kata.