Kemarin di kelas Sociolinguistics, dosen saya cerita satu hal menarik. Ia mengutarakan pendapatnya tentang bahasa di pulau Papua sana. Dengan pembawaan yang santai, beliau mulai berkata-kata. “Kalian tau ngga apa keuntungan terbesar Papua masuk jadi wilayah Indonesia? Pembangunan? Sudah pasti ngga. Apa pembangunan di sana sehebat di Jawa? Ngga. Bukan pembangunan, jelas bukan. Kalian tau? Di Pupua ada ratusan kelompok suku yang punya bahasa masing-masing di mana tiap kelompok ngga saling ngerti bahasa kelompok lain. Mungkin itu sebabnya mereka sering perang antarkelompok karena itu tadi, mereka ngga bisa komunikasi dengan baik. Jadi, keuntungan Papua gabung ke Indonesia itu adalah bahasa. Bahasa Indonesia. Bahasa pemersatu mereka. Perperangan antarkelompok jauh berkurang. Bahasa Indonesia bikin mereka bersatu. Bersatu membentuk OPM.” Kemudian, kelakar terdengar riuh. The power of languange.

If I could be dragged back to few months ago, I would explicitly say “no, thanks” when you indirectly asked me to get involved.
Keinginan untuk kembali ke kurun waktu tertentu di masa lalu yang pernah kita diami adalah keinginan yang seharusnya tidak menjadi keinginan. Bagaimanapun, keinginan adalah apa yang selalu menuntut kita untuk mewujudkannya dan seharusnya kita tahu keinginan untuk kembali ke ruang hari kemarin adalah keinginan yang terlalu tidak masuk akal untuk diusahakan. Ketika kita menyadari hal itu, kita pun akan tanpa sadar mewujudkan hal-hal yang serupa, misalnya dengan memutar kembali apa-apa yang terjadi pada masa itu di kepala kita yang nyatanya sudah terlalu jenuh untuk melakukan hal demikian berulang-ulang. Sialnya, kegiatan mengingat-ingat ini bukannya mereduksi keinginan untuk kembali menjelajahi masa lalu tetapi justru akan melesatkannya jauh ke atas.

Keinginan untuk kembali ke kurun waktu tertentu di masa lalu untuk mengubah atau memperbaiki sesuatu adalah keinginan yang seharusnya tidak menjadi keinginan. Keinginan untuk mengubah sesuatu memang bukan keinginan yang terlalu muluk tetapi jadi iya ketika apa-apa yang ingin diubah tersimpan di satu waktu di masa lalu. Bijaknya, hal serupa yang dilakukan untuk mewujudkan keinginan tersebut adalah dengan mencoba mewujudkan sesuatu yang sedikit kontradikstoris, misalnya dengan berkeinginan untuk melakukan apa-apa di masa sekarang yang tidak akan membuat kita ingin mengubahnya di masa depan.

1. A cup of hot tea.

2. An ice cream.

3. A glass of cappuccino.

4. A glass of ice chocolate.

5. A cup of hot Milo.

You may choose what you want to choose since everybody has their own choice which can be different from others. Most of us will choose what makes us happy and for we have different definition of “happiness”, we’ll be happy by our own way, by our own choice. Because there’s no “you” in the list, a glass of cappuccino is my choice making me happy the most. A glass of cappuccino, without “cincau”, of course. What’s yours?