Bahagia itu bukan perkara seberapa mahal harga sepatumu. Bahagia itu perkara sepatu siapa yang mengiringi langkah sepatumu.
Butuh beberapa lama untuk mengerti kamu, pada isi di dalam ruang, pada spasi di dalam jarak, pada rindu yang berserak.

Sapardi Djoko Damono

  • Mba: Mas, nebeng dong ke gerbang.
  • Mas: Boleh, mba. Gerbang mana?
  • Mba: Gerbang pernikahan, mas.
  • Mas: Huft, mba, huft.
Jika pagi adalah saat rindu berevaporasi, maka malam adalah saat rindu berevolusi mengelilingi pikiranku bagai planet mengelilingi matahari. Semoga Tuhan menjagaku tetap waras ketika rindu sampai pada titik perihelion. Namun, pada akhirnya aku sadar bahwa temu hanya membawa rindu mencapai titik aphelionnya. Rindu tak usai karena nyatanya rindu tak akan pernah lepas dari orbitnya.
Orang bilang obat rindu adalah temu dan apa itu berarti rindu adalah semacam penyakit yang menjangkiti anak Adam? Jika iya, maka benar bahwa aku terdiagnosa memasuki stadium lanjut. Kronis dan sedikit miris karena aku hanya bisa meringis. Ah untung masih bisa menahan tangis.
Di saat malam, semua berkumpul dalam kepala, lebih berwarna, lebih hidup. Dan rindu, jauh lebih medesak ketika sunyi.

Pidi Baiq

My elementary-school teacher: be friends with anyone. Don’t be picky!

Life: Be as picky as you can!

Kamu harusnya tahu, senyummu adalah garis lengkung yang telah meluruskan arahku. Entah Tuhan sedang apa ketika menciptakannya.
Langit adalah latar paling indah untuk setiap adegan kehidupan dan senyummu adalah suara latar paling merdu untuk adegan-adegan itu. Aku dengar lagu yang lebih dari merdu ketika menafsir lengkung itu. Langit dan senyummu. Aku tersesat di keduanya.

Langit adalah latar paling indah untuk setiap adegan kehidupan dan senyummu adalah suara latar paling merdu untuk adegan-adegan itu. Aku dengar lagu yang lebih dari merdu ketika menafsir lengkung itu. Langit dan senyummu. Aku tersesat di keduanya.

Saya yakin kalian semua cinta sama Jogja, bahkan walau belum pernah mampir. Cinta itu berkerja juga dalam telinga.

Saya yakin kalian semua cinta sama Jogja, bahkan walau belum pernah mampir. Cinta itu berkerja juga dalam telinga.

Sometimes, when I meet someone, I feel like some parts of me live in them. I feel like I see myself in them. And I just recently added one more to the list.

Wedding

Baru aja tadi liat postingan kawan di path yang habis dari wedding expo. Aku ulangi ya, wedding expo. 22 tahun dan wedding expo. Bukan yang aneh. Iya, 22 tahun dan sudah kepikiran tentang wedding itu normal, kan? Bagi perempuan. Aku suka banget liat-liat foto prewedding di Instagram. Aku follow beberapa akun jasa foto prewedding & wedding dan iya, ngga ada yang ngga bagus. Semuanya pasti selalu bisa bikin senyum simpul. Entah konsepnya, entah teknik ambil gambarnya, entah keduanya.

"Perempuan, usia 22, bicara soal wedding" adalah satu tingkat di atas "perempuan, usia 22, bicara soal marriage”. Mengapa? Karena wedding sifatnya lebih nyata, marriage sifatnya lebih abstrak karena bicara konsep di dalam kepala dan keteguhan di dalam hati. Perempuan, usia 22. Kata-kata begitu sudah pantas terujar.

Konsep wedding dan perempuan. Perempuan pasti punya konsep wedding impiannya sendiri-sendiri ya. Mulai dari baju, konsep acara, adat, venue, warna, makanan, souvenir, dll. Kalau dibahas di sini rasanya jempol aku bisa lecet. Jadi, ya bahas konsep wedding impian aku aja.

Ketika banyak perempuan yang punya konsep wedding yang begitu luar biasa, yang telintas di kepalaku, bukan tentang bagaimana indahnya, tetapi bagaimana ribetnya. Entah sejak kapan, aku ingin ketika menikah nanti (entah di usia berapa dan dengan siapa) semuanya serba sederhana dan khidmat. Aku mau tanpa ada acara resepsi, tanpa ada acara-acara adat yang begitu banyak dan melelahkan sebelumnya, termasuk acara siraman.

Aku mau menikah dalam sebuah venue yang tidak usah terlalu besar. Yang sebagian sisinya dikelilingi jendela dan pintu kaca sehingga hijau rerumputan di luar bisa terlihat. Hanya ada beberapa bangku tamu berpita putih. Mungkin sekitar 50 saja. Dan di bagian depan, ada jejeran bangku dan sebuah meja yang dipersiapkan untuk ijab kabul di pukul 8 pagi, di hari Sabtu. Di bagian sisi ada meja-meja yang di atasnya berjejer hidangan sederhana untuk yang datang. Ada cangkir-cangkir teh hangat dan kopi-kopi yang aromanya sudah bisa tercium dari balik ruangan aku berhias. Ada balon-balon tempat foto-foto penuh cerita menggantung. Dan bunga-bunga secukupnya.

Tamu-tamu yang datang tidak perlu banyak. 50 itu kalau boleh hanya di isi oleh keluarga inti kedua belah pihak dan rekan-rekan dekat. Rekan-rekan yang datang karena ingin turut berbahagia mengantar rekannya menuju satu tahap kehidupan yang baru. Rekan-rekan yang datang bukan untuk “kondangan”. Rekan-rekan yang dengan haru ikut menjadi bagian dari ritual bernama ‘nikah’ ini. Aku ngga mau di acara pernikahanku, banyak tamu yang aku sendiri tidak tau siapa. Yang datang untuk kondangan dan memenuhi undangan dari orang tuaku saja, misalnya. Aku ingin mereka yang datang adalah mereka yang benar-benar datang untuk aku dan si mempelai pria. Perempuan, usia 22, sudah boleh bicara soal mempelai pria.

Tepat jam 8, dalam suasana yang begitu sakral, dan maaf, tanpa adanya suara anak-anak, ijab kabul dimulai. Seiring tumbangnya haru biru, suka cita mulai terlahir. Dilanjutkan acara khidmat meminta restu dengan sungkem kepada dua pasang orang tua. Lalu, makan bersama. Begitu dekat dan intim. Diiringin musik yang tenang dan hangat. Menjelang siang acara sudah bisa berakhir. Sederhana.

Aku mau yang begitu saja. Tidak perlu banyak biaya. Yang sederhana saja. Yang penting dokumentasi juara. Hahahah.

Ini hanya keinginan. Berusaha mewujudkan, bila tidak terwujud ya tidak papa.

Perempuan, usia 22, sudah boleh punya mimpi tentang pernikahnnya.