Saya yakin kalian semua cinta sama Jogja, bahkan walau belum pernah mampir. Cinta itu berkerja juga dalam telinga.

Saya yakin kalian semua cinta sama Jogja, bahkan walau belum pernah mampir. Cinta itu berkerja juga dalam telinga.

Sometimes, when I meet someone, I feel like some parts of me live in them. I feel like I see myself in them. And I just recently added one more to the list.

Wedding

Baru aja tadi liat postingan kawan di path yang habis dari wedding expo. Aku ulangi ya, wedding expo. 22 tahun dan wedding expo. Bukan yang aneh. Iya, 22 tahun dan sudah kepikiran tentang wedding itu normal, kan? Bagi perempuan. Aku suka banget liat-liat foto prewedding di Instagram. Aku follow beberapa akun jasa foto prewedding & wedding dan iya, ngga ada yang ngga bagus. Semuanya pasti selalu bisa bikin senyum simpul. Entah konsepnya, entah teknik ambil gambarnya, entah keduanya.

"Perempuan, usia 22, bicara soal wedding" adalah satu tingkat di atas "perempuan, usia 22, bicara soal marriage”. Mengapa? Karena wedding sifatnya lebih nyata, marriage sifatnya lebih abstrak karena bicara konsep di dalam kepala dan keteguhan di dalam hati. Perempuan, usia 22. Kata-kata begitu sudah pantas terujar.

Konsep wedding dan perempuan. Perempuan pasti punya konsep wedding impiannya sendiri-sendiri ya. Mulai dari baju, konsep acara, adat, venue, warna, makanan, souvenir, dll. Kalau dibahas di sini rasanya jempol aku bisa lecet. Jadi, ya bahas konsep wedding impian aku aja.

Ketika banyak perempuan yang punya konsep wedding yang begitu luar biasa, yang telintas di kepalaku, bukan tentang bagaimana indahnya, tetapi bagaimana ribetnya. Entah sejak kapan, aku ingin ketika menikah nanti (entah di usia berapa dan dengan siapa) semuanya serba sederhana dan khidmat. Aku mau tanpa ada acara resepsi, tanpa ada acara-acara adat yang begitu banyak dan melelahkan sebelumnya, termasuk acara siraman.

Aku mau menikah dalam sebuah venue yang tidak usah terlalu besar. Yang sebagian sisinya dikelilingi jendela dan pintu kaca sehingga hijau rerumputan di luar bisa terlihat. Hanya ada beberapa bangku tamu berpita putih. Mungkin sekitar 50 saja. Dan di bagian depan, ada jejeran bangku dan sebuah meja yang dipersiapkan untuk ijab kabul di pukul 8 pagi, di hari Sabtu. Di bagian sisi ada meja-meja yang di atasnya berjejer hidangan sederhana untuk yang datang. Ada cangkir-cangkir teh hangat dan kopi-kopi yang aromanya sudah bisa tercium dari balik ruangan aku berhias. Ada balon-balon tempat foto-foto penuh cerita menggantung. Dan bunga-bunga secukupnya.

Tamu-tamu yang datang tidak perlu banyak. 50 itu kalau boleh hanya di isi oleh keluarga inti kedua belah pihak dan rekan-rekan dekat. Rekan-rekan yang datang karena ingin turut berbahagia mengantar rekannya menuju satu tahap kehidupan yang baru. Rekan-rekan yang datang bukan untuk “kondangan”. Rekan-rekan yang dengan haru ikut menjadi bagian dari ritual bernama ‘nikah’ ini. Aku ngga mau di acara pernikahanku, banyak tamu yang aku sendiri tidak tau siapa. Yang datang untuk kondangan dan memenuhi undangan dari orang tuaku saja, misalnya. Aku ingin mereka yang datang adalah mereka yang benar-benar datang untuk aku dan si mempelai pria. Perempuan, usia 22, sudah boleh bicara soal mempelai pria.

Tepat jam 8, dalam suasana yang begitu sakral, dan maaf, tanpa adanya suara anak-anak, ijab kabul dimulai. Seiring tumbangnya haru biru, suka cita mulai terlahir. Dilanjutkan acara khidmat meminta restu dengan sungkem kepada dua pasang orang tua. Lalu, makan bersama. Begitu dekat dan intim. Diiringin musik yang tenang dan hangat. Menjelang siang acara sudah bisa berakhir. Sederhana.

Aku mau yang begitu saja. Tidak perlu banyak biaya. Yang sederhana saja. Yang penting dokumentasi juara. Hahahah.

Ini hanya keinginan. Berusaha mewujudkan, bila tidak terwujud ya tidak papa.

Perempuan, usia 22, sudah boleh punya mimpi tentang pernikahnnya.

I don’t know how to answer. I know what I think, but words in the head are like voices underwater. They are distorted.

Jeanette Winterson, Oranges are Not the Only Fruit (via wordsnquotes)

Begitu rindu untuk pulang. Begitu rindu ingin berada di rumah. Tak pernah terkira rindu akan sebuah tempat lebih menyiksa ketimbang rindu pada seseorang. Ini bukan lagi masalah titik koordinat karena nyatanya masalah rasa jauh lebih banyak terlibat.

Sometimes, we’re so much annoying when we’re together but who cares about your whine?

Tuhan bersamamu dekat. Bahkan lebih lekat dari dirimu yang merekat erat pada kasur pagi ini.

Ada jejak jejak langkahmu tertuang dalam secangkir kopi di senja ini. Teduh, aku duduk di bangku dekat jendela. Berharap jingganya langit mengimbangi pekatnya kopi. Aku pandangi lekat lekat matahari yang dalam diam ditenggelamkan semesta. Tak lagi aku dapati matamu untuk aku selami. Kamu kutemukan mundur perlahan dan menarik diri untuk bertahan. Dalam senja, aku biarkan cangkir ini kosong hingga tiada yang tersisa termasuk jejak jejakmu. Semu.

I have no word to describe you but I have two middle fingers to let you know how you are.